
Menurut data kesehatan global, ratusan juta orang di dunia mengalami stres maupun depresi. Di Indonesia sendiri, gangguan mental emosional akibat stres masih menjadi masalah yang cukup tinggi, termasuk pada kelompok remaja dan mahasiswa. Kondisi stres yang berkepanjangan tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan fisik, salah satunya memicu gangguan lambung seperti gastritis atau maag.
Gastritis merupakan kondisi peradangan pada lapisan mukosa lambung. Penyakit ini umumnya ditandai dengan rasa tidak nyaman di bagian ulu hati, mual, muntah, perut kembung, hingga penurunan nafsu makan. Pada beberapa kasus, penderita juga dapat mengalami sakit kepala, tubuh lemas, sering bersendawa, bahkan perdarahan saluran cerna seperti muntah darah atau tinja berwarna hitam.
Secara medis, gastritis terjadi akibat iritasi dan peradangan pada dinding lambung. Penyebabnya cukup beragam, mulai dari infeksi bakteri Helicobacter pylori, pola makan yang tidak teratur, konsumsi makanan tertentu, trauma fisik, hingga stres berlebihan. Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan menghasilkan perubahan hormon yang dapat meningkatkan produksi asam lambung. Jika produksi asam lambung berlebihan, lapisan lambung menjadi lebih mudah mengalami iritasi dan akhirnya memicu gastritis.
Gejala gastritis akut biasanya muncul secara tiba-tiba, seperti nyeri di area epigastrium atau ulu hati, mual, muntah, perut terasa penuh, hingga muntah darah dan melena. Sementara itu, gastritis kronis sering kali berkembang perlahan dan pada sebagian penderita tidak menimbulkan gejala yang jelas. Namun, beberapa orang tetap dapat merasakan nyeri ulu hati, mual, dan hilangnya nafsu makan.
Stres sendiri dapat dikenali melalui berbagai tanda, baik secara fisik maupun emosional. Gejala fisik meliputi sakit kepala, nyeri otot, gangguan tidur, diare, sakit perut, jantung berdebar, hingga tubuh terasa lemas. Dari sisi emosional, stres dapat memicu rasa cemas, depresi, mudah marah, panik, menangis berlebihan, serta perilaku impulsif. Selain itu, perubahan perilaku seperti merokok berlebihan, menggigit kuku, mondar-mandir, atau tertawa dengan nada cemas juga dapat menjadi tanda seseorang sedang mengalami stres.
Pada remaja, gastritis sering dipicu oleh pola makan yang buruk, seperti sering terlambat makan, terlalu banyak mengonsumsi makanan cepat saji, dan jadwal makan yang tidak teratur. Sedangkan pada orang dewasa, tekanan pekerjaan dan gaya hidup yang kurang sehat menjadi faktor dominan. Banyak orang yang sibuk bekerja akhirnya mengabaikan pola makan sehat dan waktu istirahat, sehingga produksi asam lambung meningkat dan risiko gastritis menjadi lebih tinggi.
Karena itu, menjaga kesehatan mental dan mengelola stres dengan baik menjadi langkah penting untuk mencegah gastritis. Mengatur pola makan teratur, menghindari makanan pemicu asam lambung, cukup istirahat, rutin berolahraga, dan meluangkan waktu untuk relaksasi dapat membantu menjaga kesehatan lambung sekaligus kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Referensi
- Hidayah, H. (2011). Kesalahan-Kesalahan Pola Makan Pemicu Serbuan Penyakit Mematikan. Yogyakarta: Buku Biru.
- Khairunnisa, I., & Hartini, N. (2022). Hubungan Antara Caregiver Burden Dengan Subjective Well-Being Pada Ibu Generasi Sandwich. Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan (SIKONTAN), 1(2), 97–106.
- Kurdaningsih, V. S., & Firmansyah, R. M. (2021). Pola Makan dan Stres dengan Kejadian Gastritis Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan STIK Siti Khadijah.
- Monica, K., Wibowo, H. T., & Yudono, T. D. (2021). Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Gastritis Pada Remaja di SMA N 1 Paguyangan.
- Nuari, A. N. (2015). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Sistem Gastrointestinal. Jakarta: CV Trans Info Media.
- Ulumiya, N. (2021). Laskar Bakteri Patogen. Surabaya: UM Surabaya Publishing.
- Artikel Kementerian Kesehatan RI: “Stres Pemicu Terjadinya Gastritis” – RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Kementerian Kesehatan RI