Email:

medinova.education@gmail.com

Mengenal Obat Gastritis: Antasida, Antagonis Reseptor H2, PPI, dan Mukosa Protektor

Gastritis atau maag merupakan kondisi peradangan pada lapisan lambung yang dapat menimbulkan keluhan seperti nyeri ulu hati, mual, muntah, perut kembung, hingga rasa terbakar di dada. Untuk mengatasi kondisi ini, terdapat beberapa jenis obat yang bekerja dengan mekanisme berbeda, mulai dari menetralkan asam lambung hingga melindungi lapisan mukosa lambung.

Antasida

Antasida adalah golongan obat yang mengandung basa lemah dan digunakan untuk menetralkan kelebihan asam lambung. Obat ini sering digunakan untuk membantu meredakan gejala gastritis, tukak lambung, maupun gangguan pencernaan akibat peningkatan asam lambung.

Cara kerja antasida adalah dengan meningkatkan pH lambung melalui proses netralisasi asam lambung. Ketika kadar asam lambung terlalu tinggi, konsumsi antasida dapat membantu mengembalikan pH lambung menjadi lebih normal sehingga keluhan maag berkurang.

Beberapa jenis obat antasida yang umum digunakan antara lain:

  • Natrium bikarbonat
  • Magnesium hidroksida
  • Aluminium hidroksida
  • Magnesium karbonat
  • Magnesium trisilikat
  • Simetikon

Meskipun efektif meredakan gejala, antasida juga memiliki efek samping tertentu. Aluminium hidroksida dapat menyebabkan konstipasi atau sembelit, sedangkan magnesium hidroksida lebih sering menimbulkan diare atau efek pencahar.

Antagonis Reseptor H2

Antagonis reseptor H2 merupakan obat yang bekerja dengan menghambat reseptor histamin H2 pada sel parietal lambung. Penghambatan ini menyebabkan penurunan produksi cyclic AMP (cAMP) sehingga sekresi asam lambung berkurang.

Golongan obat ini membantu menekan produksi asam lambung dan sering digunakan pada gastritis, tukak lambung, maupun refluks asam lambung.

Obat yang termasuk antagonis reseptor H2 antara lain:

  • Ranitidin
  • Famotidin
  • Simetidin
  • Nizatidin

Ranitidin

Ranitidin digunakan untuk menghambat sekresi asam lambung dan memiliki efek yang lebih kuat dibandingkan simetidin. Dosis pengobatan umumnya adalah 150 mg sebanyak dua kali sehari.

Efek samping yang dapat muncul meliputi:

  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Reaksi kulit

Penggunaan dosis tinggi dalam jangka panjang dapat memicu hipersekresi asam lambung, nyeri perut, hingga hiperkalsemia terutama pada penderita gangguan ginjal.

Famotidin

Famotidin sering digunakan untuk pengobatan tukak duodenum atau tukak usus dua belas jari. Dosis umum yang digunakan adalah 20 mg dua kali sehari.

Efek samping famotidin meliputi:

  • Sakit kepala
  • Mual
  • Muntah
  • Reaksi kulit

Proton Pump Inhibitor (PPI)

PPI atau Proton Pump Inhibitor bekerja dengan memblokir enzim H+/K+ ATPase pada sel parietal lambung. Enzim ini dikenal sebagai pompa proton yang berperan dalam pembentukan asam lambung. Dengan menghambat pompa proton, produksi asam lambung dapat ditekan secara lebih efektif.

Obat golongan PPI meliputi:

  • Omeprazole
  • Lansoprazole
  • Pantoprazole
  • Esomeprazole

Efek samping yang dapat muncul antara lain:

  • Diare
  • Sakit kepala
  • Gatal
  • Pusing
  • Insomnia
  • Bronkospasme
  • Eritema

Omeprazole

Omeprazole digunakan untuk pengobatan tukak lambung dan tukak peptik duodenum. Obat ini tidak dianjurkan pada pasien dengan hipersensitivitas terhadap omeprazole.

Efek samping yang mungkin terjadi:

  • Sakit kepala
  • Diare
  • Nyeri perut
  • Mual
  • Gangguan tidur
  • Pusing

Lansoprazole

Lansoprazole digunakan untuk pengobatan tukak peptik dan ulkus duodenum. Penggunaannya perlu dihindari pada pasien dengan alergi terhadap lansoprazole.

Efek samping lansoprazole meliputi:

  • Mulut kering
  • Sulit tidur
  • Mengantuk
  • Penglihatan kabur
  • Ruam kulit

Esomeprazole

Esomeprazole digunakan untuk pengobatan tukak duodenum akibat infeksi Helicobacter pylori, pencegahan ulkus lambung pada pengguna NSAID, serta beberapa gangguan saluran cerna lainnya.

Kontraindikasi:

  • Hipersensitivitas terhadap esomeprazole atau golongan benzimidazol

Efek samping yang dapat muncul:

  • Sakit kepala
  • Diare
  • Mual
  • Penurunan nafsu makan
  • Konstipasi
  • Mulut kering
  • Nyeri perut

Mukosa Protektor

Mukosa protektor merupakan golongan obat yang bekerja melindungi lapisan mukosa lambung dari kerusakan akibat asam lambung, pepsin, dan empedu. Obat ini membentuk lapisan pelindung pada jaringan ulkus atau luka lambung serta membantu meningkatkan perlindungan mukosa.

Contoh obat mukosa protektor yang sering digunakan adalah sukralfat.

Sukralfat

Sukralfat bekerja dengan melapisi mukosa lambung sehingga melindungi jaringan lambung dari paparan asam dan enzim pepsin.

Efek samping sukralfat antara lain:

  • Konstipasi
  • Mual
  • Mulut kering
  • Ruam
  • Gatal
  • Vertigo
  • Pusing

Sukralfat juga dapat berinteraksi dengan beberapa obat lain, seperti antibiotik quinolone, tetrasiklin, dan warfarin, karena dapat menurunkan absorpsi obat-obatan tersebut.

Referensi

  1. Goodman & Gilman. The Pharmacological Basis of Therapeutics. 13th Edition, 2018.
  2. Aronson JK. Meyler’s Side Effects of Drugs. 16th Edition, 2016.
  3. Drug Information Handbook. Lexicomp.
  4. PIONAS BPOM RI

Tag

Kategori

Artikel Terkait

Referensi Website

Berikut adalah sumber referensi dari pembuatan website Medinova