
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, berbagai penyakit turut berkembang dan menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Salah satu yang paling umum — namun kerap disepelekan — adalah gastritis, atau yang lebih dikenal dengan sebutan maag.
Gastritis terjadi ketika lapisan dinding lambung mengalami peradangan. Penyebabnya beragam, mulai dari penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), kortikosteroid, konsumsi alkohol dan kopi berlebihan, kebiasaan merokok, hingga stres yang tinggi. Meski sering dianggap remeh, kondisi ini sebenarnya bisa berkembang menjadi komplikasi serius jika dibiarkan.
Apa yang Dirasakan Penderita Gastritis?
Keluhan yang paling khas dari gastritis adalah nyeri di ulu hati atau area epigastrium. Nyeri ini muncul karena lapisan pelindung lambung (mukosa) mengalami kerusakan akibat peradangan.
Pada penderita, rasa nyeri ini bisa terlihat jelas dari perilaku mereka — mulai dari meringis, mengerang, menghembuskan napas berat, otot yang menegang, hingga gelisah dan tidak bisa diam. Kondisi ini tentu sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan produktivitas, dan berdampak langsung pada kualitas hidup.
Jika tidak ditangani, gastritis dapat menyebabkan:
- Luka pada dinding lambung (ulkus)
- Muntah darah (hematemesis)
- Feses berwarna hitam (melena)
- Anemia akibat gangguan penyerapan vitamin B12 (anemia pernisiosa)
- Penipisan dinding lambung yang rentan terhadap perforasi (kebocoran)
Mengapa Gastritis Berbahaya jika Diabaikan?
Sayangnya, pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang bahaya gastritis masih tergolong rendah. Banyak orang menganggap maag hanya sebagai gangguan perut biasa yang bisa hilang sendiri.
Padahal, jika terus dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, gastritis dapat merusak fungsi lambung secara permanen dan meningkatkan risiko kanker lambung — kondisi yang dalam kasus tertentu bisa berujung pada kematian.
Apa Saja Penyebabnya?
Gastritis terjadi ketika mekanisme perlindungan alami lambung mulai melemah. Secara umum, penyebabnya dibagi menjadi dua kelompok:
- Faktor internal: kondisi yang memicu produksi asam lambung berlebihan.
- Faktor eksternal: zat-zat yang mengiritasi atau menginfeksi dinding lambung.
Beberapa pemicu yang paling umum meliputi:
- Jadwal makan yang tidak teratur
- Konsumsi alkohol atau kopi berlebihan
- Kebiasaan merokok
- Stres fisik maupun psikologis
- Penggunaan obat penghilang nyeri dalam jangka panjang
- Infeksi bakteri Helicobacter pylori
Khusus untuk H. pylori, bakteri ini merupakan penyebab utama gastritis. Keistimewaannya, bakteri ini mampu bertahan hidup lama di dalam lambung dengan cara mengubah kondisi lingkungannya sendiri. Akibatnya, bakteri ini terus mengiritasi lapisan lambung dan menimbulkan nyeri berkepanjangan di area epigastrium — inilah yang membuat gastritis akibat H. pylori kerap berkembang menjadi gastritis kronis (menahun).
Bagaimana Cara Mencegah dan Menanganinya?
Kabar baiknya, gastritis bisa dicegah dan dikelola dengan perubahan gaya hidup yang konsisten. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Hindari makanan pemicu: seperti makanan pedas, asam, dan berminyak.
- Kurangi atau hentikan konsumsi alkohol, kopi, dan rokok.
- Kelola stres dengan cara yang sehat, seperti olahraga ringan, meditasi, atau istirahat cukup.
- Makan teratur dalam porsi kecil namun sering, daripada makan besar sekaligus.
- Perbanyak konsumsi serat dari sayur dan buah untuk mendukung kesehatan pencernaan.
- Minum air putih yang cukup untuk membantu menetralkan asam lambung.
- Gunakan obat hanya sesuai anjuran dokter, terutama obat antiinflamasi dan penghilang nyeri.
Meski obat dapat membantu meredakan gejala, mengurangi faktor pemicunya adalah kunci utama agar gastritis tidak kambuh berulang kali.
Referensi:
- Suwindri, S., Tiranda, Y., & Ningrum, W. A. C. (2021). Faktor Penyebab Kejadian Gastritis di Indonesia: Literature review. JKM: Jurnal Keperawatan Merdeka, 1(2), 209–223.
- Suryono, S., & Meilani, R. D. (2017). Pengetahuan Pasien dengan Gastritis tentang Pencegahan Kekambuhan Gastritis. Jurnal AKP, 7(2).
- Fadhillah, M. R., Ishak, I., & Ramadhan, P. S. (2021). Implementasi Sistem Pakar Mendiagnosa Penyakit Gastritis dengan Menggunakan Metode Teorema Bayes. Jurnal Teknologi Sistem Informasi dan Sistem Komputer TGD, 4(1), 1–9.
- Umaroh, V., & Sulistyanto, B. A. (2021). Pengaruh Terapi Guided Imagery Terhadap Penurunan Nyeri pada Pasien Gastritis. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan, Vol. 1, 1071–1078.
- Kemenkes RI. Tangani Gastritis Secara Cepat dan Tepat. https://keslan.kemkes.go.id